DAM Adimaja Berbusa, Satgas dan DLH Kab Bandung Lakukan Penelusuran

Dinas lingkungan Hidup Kabupaten Bandung bersama Satgas Citarum Harum Sektor 21 Subsektor 01 dan 17, Komunitas Passer, serta Badega Lingkungan disaksikan beberapa awak Media menindaklanjuti Laporan masyarakat tentang adanya buangan yang diduga limbah berbuih di Dam Adimaja pada hari Senin (31/5) yang telah viral di media sosial.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh Tim Gabungan Satgas dan DLH, Selasa (1/6/2021) ditemukan bahwa Air tersebut merupakan aliran dari irigasi dan saluran domestik masyarakat.

Bacaan Lainnya

Disampaikan oleh Kasi Penaatan Hukum Lingkungan DLH Kabupaten Bandung Robby Dewantara, bahwa dugaan sementara buih tersebut berasal dari industri kecil dan perumahan warga. Kemudian, busa merupakan detergen bekas mencuci  dari aliran pembuangan domestik warga di Kp. Sapan Citarik, RW 14, Desa Sukamanah, Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung.

Selanjutnya, Tim DLH Kabupaten Bandung melaksanakan pengambilan sampel air untuk dilakukan Uji Lab yang hasilnya akan keluar dalam waktu 14 hari untuk mendapatkan hasil yang akurat. “Kita mengambil sampel untuk mengetahui berapa kandungan yang ada di sana, sehingga kita bisa sedikit menyimpulkan sumber itu berasal dari mana,” kata Robby.

Setelah dilakukan pengukuran tingkat keasaman, Robby menunjukkan air yang di tes menunjukkan angka pH 8,2. “Angka segitu masih netral dan aman. Sisanya masih kami harus lakukan tes di laboratorium. Ini sebetulnya dari mini industri, karena tidak ada industri yang besar di sana, cuman kita sedang identifikasi juga home industrinya,” Ujarnya.

BACA JUGA  Giat Rutin Sub 01 Rancaekek di Hari Pertama Puasa Ramadhan 1441 H

Kondisi Pintu Air Adimaja

Disamping laporan yang disampaikan masyarakat tentang adanya dugaan pembuangan limbah, terungkap fakta bahwa pintu air Adimaja saat ini kondisinya cukup memprihatinkan. Pintu Air yang rusak menyebabkan fungsi DAM menjadi tidak efisien, hal tersebut disampaikan oleh Anggota Komunitas Pasukan Susur Sungai Ekosistem Rancaekek atau Passer.

“Saat ini kita telah melakukan investigasi terkait informasi dari masyarakat yang dikatakan pencemaran di pintu air Adimaja, dalam laporan disebutkan ada beberapa titik juga yang sempat berbuih dan menyebabkan ikan mabok. Untuk pH atau tingkat keasaman setelah dicek dengan lakmus berada di angka normal,” kata Anggota Passer.

“Disamping itu, kita melihat kondisi pintu Dam yang sudah rusak. Kenapa pintu dam ke 1 dan 2 kita buka, karena kalau misalkan tidak dibuka yang ini pasti roboh karena kondisinya sekarang sudah memprihatinkan.

Jadi pada saat ini orang lain sudah mulai berjibaku untuk menyimpan cadangan air, sedangkan kita membuang dengan cuma-cuma. Dan efeknya pada lahan pesawahan ada yang kering, ada juga yang banjir. Maka dari itu, pintu Dam adimaja ini harus segera diperbaiki karena sudah tidak efisien,” sambungnya.

 

Harapan Para Petani

Para petani berusaha untuk menyedot air dari sungai, yang otomatis double Biaya karena harus mengeluarkan uang untuk sewa alkon (alat sedot air) beserta bahan bakarnya.

Salah satunya Bapak Amin (60) warga Kp. Sapan Citarik, Desa Sukamanah, Kecamatan Rancaekek menyampaikan, “Biayanya mahal lah, sehari bisa mengeluarkan 5 liter bahan bakar untuk menyedot air karena pintu Dam adimaja yang rusak, jadi pembagian air tidak merata.

“Mohon perhatiannya buat pemerintah setempat terutama BBWS tolong ada perhatian untuk memperbaiki pintu dam adimaja karena petani membutuhkan untuk mengairi sawah,” ucap Pak Amin.

BACA JUGA  Satgas Angkat Sampah dan Rumput Liar Sungai Sepanjang 65 Meter

Dam adimaja ini menurut penuturan Pak Amin dapat mengaliri ratusan hektar sawah di desa Sukamanah serta Desa Tetangga yang turut memanfaatkan Air dari Dam Adimaja. Disaat Kondisi Dam normal, pembagian air merata, namun ketika pintu air dam adimaja ini rusak, para petani harus memakai alat untuk menyedot air yang biayanya harus merogoh kocek dari kantong pribadi. Ia berharap agar pintuair ini segera diperbaiki.

“Karena kalau musim kemarau dan sungai surut, air di Dam adimaja ini jadi rebutan, tapi kalau kondisinya normal, air bisa masuk ke irigasi,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ade Suryana warga Kp. Sapan Desa Sukamanah dan Ipin warga Kp. Putra Desa Cibodas selalu penggarap sawah, “Sekarang karena pintu Dam nya rusak sawah kadang kekurangan air, kalau dulu waktu masih bagus airnya normal terbagi merata, karena rusak akibatnya kalau kemarau air gaada, harapannya pintu airnya segera diperbaiki supaya tidak usah sewa alkon lagi karena harus mengeluarkan biaya lebih,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.