Manfaat dan Sosok Dibalik DAM Adimaja

DAM Adimaja atau Pintu Air Adimaja berada di Sungai Citarik, Desa Sukamanah, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung. Adanya Bangunan DAM Adimaja hingga saat ini amat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Sistem pengendalian sungai dengan Bendungan telah menjadi salah satu cara untuk mengantisipasi terjadinya banjir dan mengendalikan ketersediaan air.

Bacaan Lainnya

Pintu Air merupakan bangunan penunjang pada bendungan yang diatur dan difungsikan untuk mengatur debit air sungai dan bendungan penahan banjir. Maka bila kemudian terjadi banjir, air dapat dikuras dengan cepat.

Sebagai pengendali ketersediaan air, DAM berfungsi untuk mengalirkan air sungai ketika melimpah, dan menampung sebagian air untuk cadangan di musim kemarau, yang bermanfaat juga untuk mengaliri lahan pertanian dan persawahan.

Sosok Adimaja dan Peranannya

Pintu Air yang dikenal dengan nama DAM Adimaja tidak terjadi begitu saja, nama Adimaja merupakan sosok dibalik pembangunan pintu air yang berada di sungai Citarik pada era kepemimpinannya sebagai Kepala Desa Sukamanah, Kecamatan Solokanjeruk, hingga tahun 1982.

Hal tersebut dijelaskan oleh Pak Apeng (62) warga Desa Sukamanah, RT 01 RW 14, yang sudah 7 tahun mendirikan warung di sekitar Bantaran Sungai Citarik, dekat Pintu Air Adimaja “Pak Adi Maja itu dulunya dikenal orang yang baik, sekarang udah almarhum baru 1 bulan. Pembangunan DAM Adimaja di sungai Citarik ini sekitar tahun 1980, Bapak juga orang sini jadi tahu,” ungkap Pak Apeng.

“Sebelum ada pembangunan DAM disini terkesan angker, kalau sekarang kan bisa bagus terawat, bagi Saya tentu awalnya karena ada peranan dari Pak Adimaja juga,” lanjutnya.

BACA JUGA  Satgas Ajak Masyarakat Berperan Aktif Kembalikan Ekosistem

Awal dari pembangunan Pintu Air disebabkan keperluan air untuk mengaliri lahan pesawahan milik Adi Maja dan Masyarakat di Desa Sukamanah. Tujuannya agar dapat mengendalikan air di saat debit sungai tinggi, dan menyimpan cadangan air ketika musim kemarau. Hingga saat ini manfaat dari pembangunan Pintu Air Adimaja masih bisa dirasakan oleh Masyarakat.

Kehadiran Satgas Citarum Harum

Peranan TNI sebagai Satgas Citarum Harum diakui Pak Apeng sangat membantu dalam penanganan permasalahan di Sungai Citarik. Diungkapkan oleh Pak Apeng bahwa di Pintu Air Adimaja ini seringkali terjadi penumpukan sampah, hal ini disebabkan kebiasaan sebagian masyarakat yang belum sadar akan bahaya sampah bagi lingkungan dan ekosistem Sungai .

“Peran TNI itu menurut Saya bagus, baru kemarin selesai membersihkan sampah, sekarang udah terjun lagi 2 hari berturut-turut. Kadang saya merasa kasihan juga sama Bapak-bapak Satgas, soalnya kemarin jalur kesini udah bersih Satgas bekerja habis-habisan, sekarang udah penuh lagi banyak sampah kiriman,” jelas Pak Apeng.

Diketahui sebelumnya bahwa Pintu Air Adimaja sungai Citarik ini dibagi menjadi dua wilayah kerja yakni Subsektor 01 Rancaekek dan Subsektor 17 Solokanjeruk dibawah Komando Dansektor 21 Kolonel Arm Nursamsudin. Menginjak tahun ke 4 program Citarum Harum, telah dilaksanakan beberapa kali pengerjaan pembersihan sampah di pintu Air tersebut.

Perilaku Masyarakat

Terdapat berbagai macam jenis sampah domestik yang menumpuk di Pintu Air Adimaja yang didominasi sampah plastik dan potongan kayu. Barang sisa pakai rumah tangga yang dibuang ke sungai merupakan akibat perilaku sebagian masyarakat yang masih perlu diberikan edukasi dan pemahaman tentang pentingnya kebersihan Sungai.

Pak Apeng menceritakan pengalamannya tangkap tangan pembuang sampah ke sungai Citarik, “Pernah dulu Saya lagi jalan mau ke pasar, dari sini ada yang lempar sampah dari jembatan Citarik di Jalan Raya. Orang lewat naik motor lempar 1 karung sampah dari jembatan besi di Jalan Raya, Karena keterbatasan kewenangan Saya cuman bisa menegur supaya tidak buang lagi disitu,” jelasnya.

BACA JUGA  Satgas Subsektor 21-04 Laksanakan Komsos dan Bersihkan Sungai Cidurian Sepanjang 100 Meter

Sebagai Masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Citarik, dirinya berharap agar kedepannya tidak lagi terjadi penumpukan sampah di pintu Air Adimaja ataupun sungai-sungai lainnya, karena pada dasarnya sungai itu sebagai salah satu yang bisa menunjang kehidupan. Pak Apeng berpesan agar masyarakat lainnya ikut membantu menjaga kebersihan sungai, “Saya pribadi kalau mengendalikan sampah di rumah dengan cara dibakar sendiri, tidak pernah Saya buang ke Sungai. Buat masyarakat yang lain kalau tidak bisa ikut membersihkan, setidaknya jangan membuang sampah ke Sungai,” pungkasnya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.