Zoom Meeting BNPB : Satgas Citarum Tolok Ukur Penanggulangan Banjir Pegunungan Kendeng

Dalam upaya penanggulangan banjir di wilayah Jawa Tengah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) gelar meeting Zoom terkait pembahasan Mitigasi Terpadu Bencana Banjir Sungai di Kawasan Aliran Pegunungan Kendeng Provinsi Jawa Tengah dan menghadirkan Tim Satgas Citarum Harum, Kamis (17/12/2020).

Dari kegiatan yang digelar mulai pukul 19.00 hingga pukul 21.30 WIB dapat disimpulkan bahwa permasalahan banjir di kawasan Pegunungan Kendeng Jawa Tengah ini cukup banyak seperti Lahan Kritis, Permasalahan Sampah, Saluran, Sedimentasi, dan kurangnya penampungan air. Hal tersebut dijelaskan oleh para narasumber yang hadir dalam meeting zoom pada malam itu.

Bacaan Lainnya

Dijelaskan bahwa wilayah Pegunungan Kendeng Jawa Tengah terdapat lengkungan, yang menyebabkan banjir pada saat hujan dan pada saat musim kemarau kering karena tidak ada tampungannya sehingga dirasa perlu dibuatkan tandon untuk membantu agar airnya bisa dimanfaatkan hingga musim kering.

Selain itu, dilihat dari proses penambangan di sana, tingkat kekeringan cukup besar dan tentu saja catatan ini menjadi tugas semua pihak yang terlibat untuk menghidupkan kembali kawasan itu, salah satunya cara untuk meredam dan mengurangi tingkat penguapan air yang berlebihan.

Dari pantauan Perhutani Kabupaten Kudus, banyak hutan yang gundul di sana dan limpasan air sungai dari Utara, dari arah atas air turun sampai ke pemukiman. Sampai saat ini memang ada limpasan karena banyak gorong-gorong atau sungai yang di situ banyak hambatan-hambatan sampah.

“Sebelum itu memang persiapan kita sudah bersih-bersih, semua bergotong-royong baik TNI-Polri, semua kita ajak untuk bersih-bersih terkait masalah sungai dan gorong-gorong sampai kita koordinasi dengan BBWS juga PSDA. Tapi memang, di Kudus ini ada lokasi area yang menampung air di situ, dari dulu ada di setiap hujan semalam pasti terjadi limpasan dan air masuk di rumah-rumah mungkin sekitar 5 sampai 10 centi. Maka dari itu untuk penanggulangan kita saat ini dengan memanfaatkan semua pompa-pompa yang ada untuk bagaimana bisa mentransfer dari dari tempat pemukiman yang banjir untuk sampai ke sungai. Lalu mengenai permasalahan sampah, memang banyak tumpukan sampah yang menghambat arus sungai melintasi dan endapan lumpur yang menutupi gorong-gorong jembatan akibatnya memang membuat aliran sungai terhambat serta penyempitan luas sungai karena sedimentasi di sepanjang tanggul. Yang ketiga, Wonosobo itu di atas gunung ada tempat tadah air yang pada saat sudah penuh tidak bisa melaju kencang akhirnya terjadi banjir bandang yang masuk di daerah Wonosobo,” tutur Perhutani Kabupaten Kudus.

BACA JUGA  Kasdam III/Siliwangi Tinjau Uji Coba Truck Ampibi Buatan Bengpuspal

Penanganan Banjir di Kawasan Pegunungan Kendeng menurut Dr. Syafrizal Z perlu rencana jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, kemudian dibuat rencana aksi, tunjuk komandan Satgas atau pengendali.

“Karena jika perencanaan saja, ya seperti yang kita pernah lakukan di DKI Jakarta menentukan perencanaan tapi tidak ada pengendali ya tidak ada yang memonitor secara ketat. Ini juga kegagalan kita akan menjadi lebih besar, oleh karenanya kami sarankan perlu ada di samping menyatukan perencanaan juga mengidentifikasi secara detail cek lapangan, kemudian buat perencanaan lalu menunjuk penanggung jawab,” kata Dr. Syafrizal.

Salah satu perwakilanTim Citarum Harum Dansektor 21 Kolonel Inf Yusep Sudrajat menyampaikan bahwa Satgas Citarum Harum dapat menjadi acuan, tolok ukur suksesnya perencanaan pengendalian banjir di kawasan pegunungan kendeng.

“Pada tanggal 20 desember 2017 hanya dalam waktu 3 bulan sudah bisa meyakinkan untuk mengeluarkan Perpres Nomor 15 tahun 2018 di mana Perpres tersebut isinya adalah salah satunya tim pengawasnya adalah Bapak Luhut Binsar Panjaitan sebagai Menko Maritim, Bapak Gubernur sebagai Dansatgas, Pangdam III/Slw sebagai Wakil Bidang Ekosistem dan Kapolda Jabar sebagai Wakil Bidang Penegakkan Hukum, itu isinya untuk organisasi seperti ini di bawahnya ada para Dansektor ada 23 sektor semuanya berpangkat Kolonel, ini semua kita di bidang ekosistem dan membawahi didalamnya ada anggota prajurit TNI waktu itu 250 orang 1 sektor, ditambah dari masyarakat 50 orang plus semua pentahelix yang ada di sektor itu semuanya dikoordinir oleh para Dansektor,”

“Tidak ada waktu yang terbuang, fokus pada penugasan di Citarum sehingga ini yang membuat efektif pelaksanaan tugas di Citarum ini yang panjang sesungguhnya 258 KM dibagi menjadi dua puluh tiga sektor. Sektor 1 sampai sektor 20 itu Sungai inti mulai dari hulu di gunung Wayang sampai Karawang muara gembong, sedangkan Sektor 21 Saya adalah anak-anak sungai yang ada di Kabupaten Bandung, Kota Cimahi Sumedang dan yang lainnya di wilayah Bandung Raya Sektor 22 Kota Bandung dan sektor 23 khusus pembibitan dan menanam itu yang membuat percepatan kegiatan Citarum ini kelihatan nyata dalam 3 tahun ini,” papar Kolonel Yusep.

BACA JUGA  Perlu Solusi Terbaik Penumpukan Sampah di TPS Desa Linggar Agar Tak Masuk ke Badan Sungai

“Ternyata permasalahan Citarum Harum ada berapa hal setelah kita masuk, lahan kritis dan sedimentasi, limbah industri dan domestik, sampah pemukiman dan kotoran ternak, bangunan liar dan keramba jaring apung, dan ada beberapa hal yang kita kerjakan yang merupakan penanganan penyebab banjir,”

“Sarana yang lainnya untuk masalah sampah, ini yang kita lakukan penting juga untuk mengurangi sampah adalah melaksanakan Zero Waste, SD, SMP dan SMA yang ada di Bandung Raya ini semua diwajibkan membawa tempat minum maupun tempat makan sehingga mengurangi penggunaan plastik di Citarum, permasalahan berikutnya kotoran manusia juga luar biasa kita langsung ke solusinya membuat MCK, membuat sanitasi komunal dan membuat sepiteng komunal ini dibiayai oleh negara udah kurang lebih 430 unit sanitasi komunal selama 3 tahun ini, kita lanjut contoh-contohnya masalah bangunan liar di sungai, solusinya udah dibongkar kurang lebih udah 1103 unit dibongkar dan tanpa ada perlawanan di masyarakat, dengan senang hati mereka bangun bongkar sendiri. Kita hanya membantu, kita lakukan termasuk limbah industri. Awal kita masuk seperti ini (menampilkan video) dan ini udah berjalan berpuluh-puluh tahun seperti ini, dampaknya sebetulnya luar biasa pada kesehatan ini untuk dampak dari industri di samping itu semua ekosistem mati semua, solusinya adalah ada baku mutu tapi tidak jalan karena perangkatnya yang tidak siap, makanya kita memberikan parameter yaitu dengan membuang limbah udah bening dan ikan koi harus hidup di situ, tidak seperti itu kita tutup lubang pembuangan limbah nya dengan pengecoran untuk efek jera para pemilik pabrik. Ada 764 pabrik yang udah di sidak dari kurang lebih 1900 pabrik yang ada di Jawa Barat, permasalahan berikutnya keramba jaring apung juga dari 3 bendungan ini Saguling itu 35.000 yang sekarang ada kapasitasnya maksimal, nantinya tinggal 3.500 citrata 98.000 kapasitas maksimalnya nanti jadi 12000, waduk Jatiluhur 1000 yang ada nanti menjadi 2100 ini sampai tahun ini baru kurang lebih rp17.000 yang terangkat jadi masih panjang perjalanannya ini perlu kerja keras untuk kedepannya ini kondisi Citarum sebelumnya seperti ini sesudahnya sebelah kanannya ini kondisinya sekarang jadi masih udah lebih bagus.

BACA JUGA  Renovasi RSUD Kesehatan Kerja Rancaekek Diduga Tidak Sesuai Perencanaan

Diperlukan kepedulian kita semua untuk membangun harmoni bergandeng tangan bersinergi merawat Sungai Citarum adanya program Citarum harum telah menemukan optimism baru bahkan telah menghidupkan kesadaran akan pentingnya merawat ekosistem Citarum,” pungkasnya.

Dalam meeting Zoom yang dipimpin langsung oleh Kepala BNPB tersebut menghadirkan 33 orang yang terdiri dari peserta dan nara sumber diantaranya, Gubernur Jawa Tengah, Pangdam IV/Diponegoro, Kapolda Jawa Tengah, Deputi Bidang Koordinasi dan Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Kemenko PMK, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Maritim dan Investasi, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Deputi Bidang Pencegahan BNPB, PLT Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB, Asisten Operasional Panglima TNI, Asisten Operasional Kapolri, Bupati Pati, Bupati Kudus, Bupati Rembang, Bupati Blora, Bupati Grobogan, Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementerian LHK, Direktur Jenderal Tata Ruang Kementerian ATR/ BPN, Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Dandim 073/Makutarama, Dandim 07 18/Pati, Dandim 0722/Kudus, Kapolres Pati, Kapolres Kudus, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Tengah, Kepala BBWS Pemali Juana, Kementerian PUPR, Kepala BPDAS Pemali Jeratun Wilayah Kerja Provinsi Jawa Tengah Kementerian LHK, Brigjen (purn) Yudi Zanibar Tim Citarum, Mayjen TNI (purn) Komarudin dan Tim Tenaga Ahli, Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo. MS., Dansektor 21 Citarum Kolonel Inf Yusep S, dan Bapak Yuhan Budiansi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.