Pemuda Nilai, Sakral Adat Pulau Buru Di Jual Demi Nasi Sepiring

KPR.COM Buru, Maluku-Keturunan perinta latsalau Watemun, yang juga selaku Pemudah Adat Pulau Buru menilai Sakral Adat Pulau Buru di jual demi nasi sepiring, bahkan iya juga merasa kesal dengan kehadiran waduk bendungan raksasa yang diduga milik balai wilayah sungai, ( BWS ) di pulau Buru yang terletak di kecamatan, Lolongguba dan Waelata Kabupaten Buru, Maluku

Waduk tersebut dinilai hadir terkesan untuk memecah belah kerukunan masyarakat Soar Pito,  7 Suku Adat Waeapo Pulau Buru Maluku. Hal ini disebabkan pada awak media’ Minggu, (02/08/20)

Pemuda Adat Buru, Achon Nurlatu mengatakan” Penggusuran lahan Adat bertempat di petuanan Kaiely Kaku dan terkesan bersifat bisnis dan mungkin itu juga betul sehinggamencedraii nilai nilai Leluhur Bumi Bupolo” ujarnya.

Lanjutnya” ketua BWS Perlu Ingat bahwa Sungai Waeapo bukan hanya dilindungi dan milik SOA yang berada di petuanan Kaiely tetapi Waeapo adalah hak keseluruhan 7 Anak cucu Adat di kabupaten Buru dan Buru Selatan bahkan tersebar di seluruh pertiwi.” Tegasnya.

Nurlatu juga mengatakan” kami mendukung semua program pemerintah tetapi setidaknya ada kerja sama dengan 7 SOA yang  punya milik/ulayat agar kita bisa menunjukkan mana tempat sakral Adat, (aramat) dan mana tempat biasa.” Ungkapnya.

Iya juga menuturkan” Jika lahan kayu putih dan kebun itu memang betul milik pribadi,  tetapi sungai Waeapo itu milik anak cucu Waeapo.” Jelasnya.

” Sebagai generasi muda dirinya merasa mungkin  kita bi Buru ini di anggap bodoh dan dibodohi. Waduk ini perusahan besar kenpa tidak libatkan kenapa dalam prosesnya tidakelibatkan masyarakat setempat, jika libatkan pasti ada suplai lapangan kerja disitu, bahkan berdampak juga kepada Pelajar dan Mahasiswa di luar sana jika di lirik dari sisi lain. Bahkan ada dugaan ada perputaran uang yang hilang jejak disitu” beber Nurlatu.

BACA JUGA  Aktivis MGP Dukung Kejaksaan Turun Tangan Sengkarut di Bina Marga Kota Bandung

”  Saya yakin penuh masalah waduk pasti berlanjut, karena anak cucu Soar Pito  7 SOA, Waeapo  masih menuntut hak, di mna hak ulayat, dmna pulau Buru sebagai pulau Adat Jangan Karena uang Kita mengadaikan Adat Dengan Nasi Sepiring.” Tutup Achon Nurlatu.

(ET/Rd)

Koran Peduli Rakyat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.