Renovasi RSUD Kesehatan Kerja Rancaekek Diduga Tidak Sesuai Perencanaan

Pekerjaan renovasi Rumah Sakit Umum daerah Kesehatan Kerja Rancaekek yang berlokasi di Jalan Raya Rancaekek KM 27, Desa Nanjung Mekar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung menuai Pro dan Kontra.

Pekerjaan yang seharusnya selesai pada akhir bulan Desember 2019, sampai saat ini masih menjadi sorotan karena masih dalam proses pengerjaan.

Disampaikan Tim Investigasi LSM PMPR Indonesia, pada pemantauan tanggal 31 Januari 2020 terlihat masih banyak pekerja yang melaksanakan proyek tersebut. “Kita mendapati pekerjaan tersebut belum mencapai 100 persen, seharusnya sudah selesai tanggal 28 Desember,” saat ditemui koranpedulirakyat.com pada hari Sabtu, (08/02/2020).

Bacaan Lainnya

Pada temuannya dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut terlihat seakan-akan dilakukan dengan tidak profesional. Hal ini terlihat dari ketidaksesuaian Fungsi dan pemasangan beberapa material yang tidak sesuai spesifikasi.

Adapun material yang diduga tidak sesuai spesifikasi diantaranya berupa Kusen Alumunium, Atap, dan Kaca Panasap. Sedangkan pemasangan yang diduga tidak sesuai adalah beberapa fasilitas yang berada tidak pada tempat dan fungsinya.

Kepada koranpedulirakyat.com Tim Investigasi LSM PMPR I menambahkan, “Masih terdapat kebocoran di beberapa titik atap, ada genangan air di lantai basemant, pemasangan wastafel ada di posisi bad atau tempat tidur, juga pemasangan beberapa titik AC yang tidak sesuai tempat,” ungkapnya. “Profil-profil ACP dan list plafon juga tidaj rapih, sehingga terlihat dikerjakan asal-asalan,” tambahnya lagi.

BACA JUGA  Dari Festival Solahua di SBB Widya: Permainan Tradisional Perlu di Populerkan Kembali

Dalam pantauannya Tim Investigasi PMPR I menyoroti pemasangan atap yang dinilai kurang ideal hingga menyebabkan Air tidak mengalir dengan sempurna. “Kami menilai atap ini seharusnya menggunakan spandeck karena kemiringan berada dalam kemiringan lima derajat. Sedangkan pada pembangunan ini, atap yang digunakan berupa genteng pasir yang idealnya digunakan untuk kemiringan sepuluh derajat, maka yang terjadi ialah air tidak mengalir dengan sempurna dan menyebabkan kebocoran dan genangan air,” tutupnya.

Menanggapi progress dan proses pekerjaan ini, PMPRI menilai bahwa hal seperti ini bisa terjadi akibat lemahnya fungsi pengawasan baik dari dinas kesehatan Provinsi Jawa Barat maupun Konsultan Pengawas. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.